Juru Bicara Jakarta, Stand Up Comedy Show: Sulit Dipercaya

31 km adalah jarak yang harus saya tempuh sabtu kemarin untuk menyasikan stand up comedy special show dari Pandji Pragiwaksono yang dihelat di Kota Kasablanka. Jam menunjukan pukul 16.00 saya baru berangkat dari rumah saya di BSD, Tangerang Selatan. Rencana nya saya akan menonton acara ini dengan tunangan saya dan 2 teman kuliah saya dulu. Berangkat pukul 16.00 dari BSD saya prediksi cukup saja karena acara akan dimulai pukul 19.30 walaupun sebelumnya saya harus menjemput tunangan saya di daerah Bendungan Hilir.

Ini bukan kali pertama saya menonton show stand up comedy dari Pandji. Bhinneka Tunggal Tawa saya tonton via DVD yang dipesan lewat Multiply -sebelum ada wsydnshop.com-. Merdeka Dalam Bercanda saya saksikan langsung di Bandung. Messake Bangsaku juga saya tonton langsung di Teater Jakarta. Kali ini spesial show beliau yang keempat, Juru Bicara.

Ternyata saya salah. Berangkat pukul 16.00 dari BSD ke Kokas tidak cukup untuk dapat seat yang nyaman. Saya bersama rombongan membeli tiket Gold -harga dan posisi duduk ada di tengah-tengah- namun kami ada di baris kedua sebelum baris depan kategori Silver. Menyesal memang tapi apa daya saya kurang antisipasi untuk setidaknya berangkat lebih awal karena di show Juru Bicara ini sistemnya free seat. 

Takjub. Itulah respon saya saat pertama kali duduk di dalam tempat acara akan berlangsung. Ribuan orang sudah siap di kursinya masing-masing untuk tertawa bersama. 

Sulit untuk dipercaya bahwa ada ribuan orang rela antri untuk masuk sejak gate dibuka demi spot terbaik. Gila. Tak terbayangkan sama sekali pengorbanan mereka menunggu lama nya di dalam.

Sulit untuk dipercaya ketika kesenian yang tergolong baru di Indonesia ini mampu menyerap banyak orang dan rela merogoh kocek cukup dalam untuk bisa menyaksikan acara ini.

Sulit untuk dipercaya ketika akhir acara 3500 orang memberikan standing ovation yang berlangsung lama, lebih lama daripada Messake Bangsaku apalagi saat Illucinati nya Ernest Prakasa yang memang Ernest sendiri yang bilang, “ga usah berdiri” canggung dan haru mungkin. 😀

Acara berlangsung 3 jam lebih dan sangat tidak terasa. Dari awal Coki Pardede dan Indra Jegel memanaskan acara hingga bit Facebook dari Pandji yang menutup rangkaian tur dunia nya kali ini.

Saya sampai-sampai tak bisa memilih mana bit favorit saya. Terlalu larut dalam kesenangan saya rasa. Berbeda dari show Mesakke Bangsaku di Jakarta beberapa tahun lalu. Ketika perjalanan pulang saya sudah memilih bit Glenn Fredly dan bit gay di medan perang yang menjadi favorit saya.

Pandji berhasil membuka 3500 pasang mata akan keresahan berbagai elemen masyarakat. Tentunya yang banyak dari kami belum tahu ada masalah-masalah itu sebelumnya. 

Kurang afdol rasanya kalau saya tidak menuliskan momen-momen terbaik yang terekam dalam ingatan saya pada show Juru Bicara Jakarta ini.

Act out terbaik saya jatuhkan pada act out Pandji saat bilang, “penonton mau tahu??” Takkan pernah saya lupa dan akan saya tunggu di DVD.

Riffing paling lucu saat Pandji bereaksi akan salah satu penonton yang ngotot soal rasa Indomie berbungkus oranye. Bagi yang nonton pasti akan ingat kejadian ini.

Bridging favorit saya ada pada saat perpindahan topik ke Aksi Kamisan. Terima kasih kepada Pandji sudah menunjukkan pada kami bahwa ada orangtua di luar sana yang masih menanti kabar buah cinta nya yang masih abu-abu hingga sekarang.

Dan yang terakhir ada bit lama bersemi kembali dari Indra Jegel yang memuaskan saya. Bit itu adalah bit Jegel soal kawan nya yang kurang beruntung. Bit ini adalah bit Jegel favorit saya yang pernah ditampilkan di SUCI Kompas TV. Finally I watched it, live 😀.

Satu hal yang jadi penyesalan saya adalah saya tidak sempat untul berfoto bersama walaupun saya punya tiket prioritas. Di samping karena telat mengantri saya pun ada perjalanan ke Bandung langsung saat selesai nya acara. Khawatir fisik tidak memungkinkan apabila saya paksakan untuk mengantri foto bersama. Semoga bisa terwujud di lain show, Aamiin.

Akhirnya saya pun memilih pulang dam berfoto saja pada banner diluar. Lumayan lah daripada tidak ada kenang-kenangan sama sekali.


Untuk penutup sekali lagi saya ucapkan selamat untuk Pandji atas perjuangan nya serta terima kasih telah menghibur kami semua. Sebelum kami berempat berpisah dari Kokas, ada satu teman bertanya, “kapan lagi bisa nonton Pandji kayak gini ya?” saya pun diam karena Pandji pun tak tahu kapan karena yang pasti beliau pernah bilang tahun depan takkan ada tur. 

Selamat larut dalam euforia keberhasilan mu mas Pandji, kami menunggu keceriaan lain darimu.

Ending The 30daysofblogging

Today is my finish line. A month ago I’ve challenged myself to refilled my blog. I wanted to wrote a post each day in November. It’s so hard to constantly post everyday but today I have accomplished the mission.

Thanks to wordpress for android for facilitate the mission.

Thanks to dailypost.wordpress.com for giving me an inspiration to write a post constantly.

I hope this is not the end of my writing spirit because it feels fun. 🙂

Rest In Peace

They just left us.

Leaving the dream to conquer the land.

Heaven must be craving some kind of a good fight.

A winning spirit.

God and its angels will cheers a lot, give them your beauty.

Rest in peace, you’ll remembered.

Deepest condolence to every players of Chapecoense Football Club that goes to heaven this day.

Ramon and Vina: Brand New Car

Ramon’s watch showing 7 pm in this Friday noon. Time to relax and freeing his back from dozens work tasks. Ramon Fernando is one of advertising company staff in Jakarta. He works 8 hours minimum in 5 days a week. Oftentimes he did an overtime to finished his tasks before the deadline. He has been a year and a month being a staff in that company. Good paid and nice office are his triggers to stay in that position despite the tasks are drowning him day by day.

This friday night Ramon and his girlfriend Vina, are going for a date. They wanna go to somewhere cozy in Jakarta.Both of them are a staff from different company in this city. Ramon promised Vina to picked her up at 7.30 pm. There are 3o minutes time window to get to Vina’s office so Ramon didn’t get to much worried about it.

Continue reading

Curahan Hati di Pembangkit

Setiap orang pasti punya rasa yang terpendam. Tak jarang yang suka mengekspresikan nya melalui tulisan. Seperti saya sendiri. Melalui media blog saya mencurahkan apa yang menjadi uneg-uneg di dalam hati.

Siang ini saya melihat curahan hati yang ditulis oleh pekerja proyek di tempat saya bekerja. Diperkirakan ditulis sekitar 3-5 tahun yang lalu. 

Aku ga mau tau, yang penting aku harus one year in muara tawar. ttd someone. only 1.5 months again.

Curhatan yang saya highlight adalah curhatan paling dalam makna nya yang ada di foto itu. Memang tak mudah menjadi pekerja proyek. Saya pun pernah mengalaminya sebelum bekerja di tempat yang sekarang.

Semoga sang penulis curhatan saat ini sudah bekerja di tempat yang lebih baik.

Harapan Itu Ada

Banyak orang yang bilang bahwa di zaman seperti sekarang ini sudah sangat sulit menemukan orang yang rela melakukan sesuatu secara cuma-cuma. Tanpa ada peran dari uang, mustahil tujuan akan tercapai. Semulia apapun tujuan nya.

Pendapat di atas tersebut malam ini sirna setelah menonton video diary dari Erix Soekamti episode 371. Harapan bahwa masih ada orang yang peduli dan tulus dalam berbagi tetap ada.

Terima kasih kepada mbak Tika karena dengan perbuatan mu kami masih percaya akan kemanusiaan tanpa pamrih.

Terima kasih kepada mas Erix karena dengan video Does malam ini dapat menghibur sekaligus memberi inspirasi yang berharga.

Sekali lagi terima kasih mbak Tika dan mas Erix, upah kalian besar di surga.