Hilang

25 tahun aku hidup di dunia dan selama itu juga lah aku sebagai seorang muslim. Kedua orang tua ku ingin aku menjadi muslim yang baik. Salah satunya dengan memasukan ku ke sekolah islam dari mulai TK hingga SMP. Kurang lebih 11 tahun lama nya.

Aku ingat, ketika aku diajarkan untuk bisa bertoleransi antar umat beragama.
Aku ingat, suara guru ku menyerukan bahwa setiap manusia level nya sama, hanya ketakwaan lah yang menjadi pembeda.
Aku pun ingat, ketika guru ku mengajari kami keberagaman dan bilang bahwa Indonesia itu majemuk.

Tapi aku tak pernah ingat, kalau guru ku pernah bilang bahwa membunuh itu dilegalkan.
Aku tak ingat, kapan guru ku bilang kalau menebar kebencian adalah ajaran agama kami.
Dan aku pun tak ingat, kapan guru ku bilang kalau permintaan maaf tidak ada artinya jika menyangkut urusan agama.

3 hari yang lalu kau serukan ajakan untuk beraksi di group chat komunitas. Aku pun menanggapi apa yang menjadi perhatian ku. “Boleh asal tertib, kasian yang mencari nafkah di jakarta”. Kurang lebih itu lah balasan ku. Kau pun menanggapi dengan baik nya tanpa tendensi apapun.

2 hari yang lalu, kau serukan lagi ajakan untuk beraksi. Kali ini sudah cukup bagiku untuk suarakan aspirasi. Aku pun membalas dengan mendoakan mu untuk berhati-hati karena keluargamu menunggu di rumah. Kau pun lagi-lagi membalas ucapan ku dengan sangat baik tanpa ada kata-kata yang seolah-olah menuduhku hanya bisa nyinyir.

Kemarin, hari yang kau nanti telah tiba. Tak bosan-bosan nya kau serukan untuk beraksi. Walaupun tak ada satu pun penghuni grup yang dapat ikut hadir.
Aku ikut senang ketika pagi itu kau bilang gema takbir tak pernah henti nya di setiap stasiun singgah kereta yang kau tumpangi.
Aku ikut senang ketika pagi itu kau bilang keadaan berjalan kondusif dan aman.

Namun,
Kesenangan ku berbalik ketika kau bilang sang target tak ada dan takkan ada karena akan digantung jikalau ada.
Euforia kekuatan agama itu luntur bagiku setelah ku lihat foto-foto bertuliskan ancaman penghilangan nyawa yang kau perlihatkan.

Maaf kawan, seketika hormat ku hilang padamu. Aku tahu memang kita berbeda pendapat soal yang satu ini.
Kuharap apa yang lain di dirimu hanya lah karena masih terjebaknya kau bersama euforia aksi 300.000 umat muslim siang kemarin yang menurutmu jauh lebih banyak dari peristiwa jatuhnya rezim Presiden Soeharto.

Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s