Mereka Tak Lagi di Rel

05.30 waktu Indonesia bagian barat. Rakyat penghuni kota satelit telah siap di peron menunggu Commuter Line andalan tiba.

Termasuk aku. 5 hari dalam seminggu aku pulang dan pergi ke Jakarta untuk menunaikan kewajiban ku sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta. Seperti kebanyakan orang, aku memilih Commuter Line sebagai transportasi ku menuju ke kantor karena selain terjangkau, waktu tempuh nya pun paling cepat dibanding alat transportasi umum lainnya.

6 bulan sudah berlalu semenjak aku lulus kuliah dan diterima bekerja di perusahaan ini. Selama waktu itu pula aku sudah wara wiri menggunakan commuter line di pagi dan malam hari. Sudah banyak muka-muka yang familiar tiap aku sampai ke stasiun, baik stasiun keberangkatan maupun stasiun kepulangan ku. Mereka terdiri dari berbagai macam profesi. Ada orang kantoran, mahasiswa, anak sekolah dan juga para pedagang yang siap tempur menjajakan dagangan nya. Walaupun aku tidak kenal secara pribadi tapi aku tahu mereka pedagang karena mereka selalu turun di Stasiun Kebayoran dan pernah sekali waktu aku mendengar percakapan nya soal dunia perdagangan pasar.

Dari banyaknya penumpang yang sudah pasti kutemui setiap harinya, ada yang menarik perhatian ku. Mereka adalah sepasang suami istri, ku namakan mereka Bapak dan Ibu Arya. Asal saja, hanya untuk memudahkan penulisan. Karena akupun tak tahu siapa nama asli mereka. Yang jelas mereka selalu ada di setiap kepergian dan kepulanganku di Commuter Line ini.  Tak pernah satu kali pun kulewatkan kehadiran mereka di moda transportasi ini. Kurasa karena memang jam keberangkatan kami sama serta kami sama-sama melanjutkan perjalanan dengan Commuter Line tujuan Stasiun Sudirman dari Stasiun Tanah Abang.

Tidak ada yang spesial dari Bapak dan Ibu Arya. Mereka hanya lah pasangan muda yang memilih hidup di daerah Tangerang Selatan dan sama-sama bekerja di daerah Jakarta. Yang menarik perhatian ku adalah aku melihat refleksi dari kehidupanku 5 tahun ke depan di kehidupan mereka. Kami sama-sama hidup bukan di kota tempat kami beraktivitas. Sepasang suami istri yang bahu membahu bekerja keras demi keberlangsungan hidup. Aku pun sering membayangkan seperti itulah yang akan aku alami ketika aku sudah berkeluarga nanti.

3 bulan berlalu semenjak aku selalu sadar akan kehadiran Bapak dan Ibu Arya. Ada satu kewajiban yang menjadi gesture wajib dari keluarga kecil ini. Bapak Arya selalu mencium perut Ibu Arya yang berisi buah cinta mereka. Selalu dilakukan tepat sebelum Bapak Arya turun dari Commuter Line. Pak Arya selalu turun di Stasiun Karet sedangkan Ibu Arya sama denganku turun di Stasiun Sudirman.

Selain gesture wajib dari sang suami pada sang istri aku pun hapal urutan perjalanan mereka tiap harinya. Naik dari Stasiun Sudimara berpindah kereta di Stasiun Tanah Abang, sang suami turun di Stasiun Karet dan sang istri turun di Stasiun Sudirman. Mereka bisa dibilang tontonan wajib ku selama perjalanan menuju kantor. Sempat beberapa kali mereka tak hadir menemani perjalanan ku ke kantor dan ya, aku merasa kehilangan. Bagaimana tidak, karena terlampau menariknya mereka untukku. Ibu Arya turun dari Commuter Line saja aku memperhatikannya dengan sangat hati-hati. Khawatir dia kehilangan keseimbangan dan berakibat buruk untuknya juga untuk calon bayi di kandungan nya.

Hari Jumat 29 Agustus 2014 tak ada yang spesial di Commuter Line. Jalur ku tetap sama dan Keluarga Arya masih setia menemani perjalanan ku. Namun hari ini terasa berbeda karena ini lah hari terakhir ku di Commuter Line. Tepat pada hari senin, 1 September 2014 aku harus menjalani pendidikan di negeri seberang.

Hari berganti hari tak terasa sudah 3 bulan aku menjalani studi ku. Semuanya berjalan lancar sampai pada datangnya berita itu. Aku melihat handphone ku, saat itu menunjukkan pukul 4 sore.  Ku dapatkan berita tentang adanya kecelakaan Commuter Line jalur Tanah Abang – Serpong. Banyak korban jiwa yang jatuh saat itu. Baik dari penumpang Commuter Line juga warga sekitar rel yang ada disana saat kecelakaan terjadi.

Langsung terbersit dalam benak ku keadaan Keluarga Arya. Apakah mereka selamat? Atau malah menjadi salah satu korban dalam kecelakaan tersebut. Menyesal rasanya waktu itu aku tak memberanikan diri untuk bertegur sapa. Setidaknya untuk tahu siapa nama mereka. Andai saja dulu aku punya cukup nyali tentang itu aku tak akan se was-was ini menerka-nerka apakah mereka selamat atau tidak. Kalau aku tahu, aku bisa lihat pada daftar nama korban yang dirilis beberapa jam setelah kejadian.

Oktober 2015 aku pulang ke kampung halaman. Hampir setahun sudah hari naas itu telah berlalu. Masih ada rasa ganjal di hati ku untuk tahu keadaan Keluarga Arya. Hari demi hari kulewati kebiasaan yang selalu aku lakukan setahun yang lalu. Tetap tak kutemui mereka. Aku lakukan rutinitas baru untuk bisa bertemu mereka seperti masuk ke dalam gerbong yang berbeda setiap harinya. Berharap kulihat mereka ada disana. Ternyata usaha ku tetap tak membuahkan hasil.

Mereka yang selalu menemani ku mengawali hari kini tak lagi ada. Mereka yang selalu menyuguhkan semangat kehidupan pada ku kini tak pernah lagi ku saksikan. Dan sepertinya aku pun harus merelakan karena kini mereka benar-benar tak lagi di rel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s